MENGENAL AGAMA HINDU

om-symbol-icon-thumb3363570

Dari seluruh agama yang masih hidup mungkin agama Hindu yang tertua. Agama ini adalah sinkretisme yang dibentuk dari kompromi antara berbagai jenis agama dan kebudayaan di anak benua India. Dua aliran agama yang bercampur dalam agama Hindu, yakni Dravida dan Indo-Aria.

Agama Bangsa Dravida

Bangsa Dravida telah mencapai tingkat kebudayaan yang sangat tinggi jauh sebelum munculnya bangsa Aria di anak benua Indo-Pakistan. Ada bukti sejarah bahwa pada tahun 2500 sM peradaban di lembah sungai Indus telah dibangun bangsa Dravida dan sudah cukup maju di negeri yang sekarang disebut Pakistan. Mereka berbudaya petani serta mahir baca tulis, menggunakan tembaga, dan perunggu, tetapi belum memakai besi dalam persenjataan, serta mempunyai hubungan dagang pada waktu-waktu tertentu dengan Sumeria dan Akkad. Reruntuhan dari dua ibukota kembarnya, yakni Harappa di Utara dan Mohenjo Daro di Selatan dilandasi dengan rancangan bangunan yang sama dan ini menyajikan bukti tentang masyarakat yang sangat terorganisir dan berkembang dibawah suatu sistem pemerintahan yang kuat dan terpusat. Mereka menghasilkan juga beberapa karya seni dan kerajinan yang menakjubkan.

Kita tidak mengetahui sebanyak yang kita inginkan mengenai agama Dravida. Peninggalan tulisan mereka berbentuk semacam tulisan bergambar yang sampai sekarang belum terpecahkan. Namun beberapa gambar timbul yang didapati di Harappa serta Mohenjo Daro memberi kita beberapa kunci sifat agama mereka. Berbagai gambar wanita di berbagai tembikar membuat kita berfikir bahwa ada beberapa bentuk penyembahan terhadap tuhan ibu di kalangan mereka. Juga ada suatu candi yang menunjukkan bentuk wanita yang dari perutnya keluar suatu tanaman, dan ini menunjukkan ide dari dewi bumi yang berhubungan dengan tanaman. Dewi-dewi semacam itu adalah biasa dalam agama Hindu sekarang. Juga ada beberapa sajian pada candi-candi yang ditemukan di lembah Indus dari tuhan wanita, bertanduk dan bermuka tiga yang duduk dalam posisi yoga, kakinya bersila dikelilingi oleh satu candi berbentuk empat ekor binatang buas, gajah, macan, badak, dan banteng. Ini adalah prototipe dari dewi Hindu yang sebagai tuhan utama Shiva tuhan dari binatang-binatang buas dan pangeran yogi.

Juga ada bukti di kalangan bangsa dari Lembah Indus ini, orang-orangnya menyembah phallic dengan penyajian kelamin laki-laki dan kelamin wanita; penyembahan pohon suci; khususnya pohon pipal sebagai apa yang dimakan binatang binatang suci, seperti banteng yang membungkuk, sapi, dan ular naga. Semua gambaran ini menunjukkan binatang suci dalam agama Hindu. Semua gambaran lain yang ada di agama Hindu juga ditemui, seperti penyembahan patung, bertapa dengan cara-cara yoga, bermeditasi, berkumpul dan mandi bersama-sama di sungai. Ajaran inkarnasi (avtar) dan penitisan pun adalah sumbangan bangsa Dravida ke dalam agama Hindu.

Peradaban lembah Indus ini berakhir secara mendadak antara tahun 2000 sampai dengan 1500 tahun sebelum masehi. Taraf terakhir dari peradaban ini adalah saat-saat kekacauan dan kesukaran. Ada bukti-bukti yang tak terelakkan tentang adanya kekerasan, perampokkan, dan kebinasaan yang dilakukan oleh penyerang-penyerang asing. Peradaban kaum yang baru ini adalah perusak peradaban lembah Indus yang datang berkelompok besar dan bergelombang-gelombang, dan mereka jauh lebih primitif dibanding dengan bangsa Dravida baik cara hidup kepercayaan, maupun praktik keagamaan mereka secara menyeluruh.

Agama Weda

Para ahli sejarah menyatakan tentang pendatang baru ini termasuk ras Indo-Eropah yang menyebut diri mereka sebagai bangsa Arya. Untuk keterangan mengenai peradaban dari agama bangsa Arya ini kami berpegang penuh kepada Kitab Weda yang merupakan kumpulan puji-pujian yang termasyhur, terdiri dari empat yang termasyhur, yakni Rig Weda, Yajur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda. Dari kesemuanya ini, Rig Weda adalah yang paling awal dan yang paling penting serta berisikan 1028 puji-pujian Agama Indo-Aria sebagaimana ditemukan dalam Rig Weda digambarkan sebagai penjelmaan alam. Dewa-dewi agama Weda ini adalah penjelmaan lebih kurang sebagai pengejawantahan dari daya-daya kekuatan alam. Agni adalah dewa api, Bayu adalah dewa angin, Surya adalah dewa matahari, dan seterusnya. Mereka dipandang sebagai makhluk yang lebih tinggi dari manusia, dan kewajiban manusia untuk menyembah, mematuhi, dan memberi sesaji kepada mereka. Jadi terdapat banyak tuhan dalam agam bangsa Arya. K. M. Sen menulis: “Agama bangsa Arya sekarang ini seperti tampak pada kitabnya adalah poleteisme, dan mempunyai persamaan metologi dengan pasangannya di Eropah”.

Walaupun demikian ada kira-kira seperempat dari puji-pujian dalam Rig Weda ditujukan kepada Indra. Dia adalah dewa langit biru, pengumpul awan, pencurah hujan, dan yang menurunkan petir. Dia membantu para pemujanya, bangsa Arya dalam membinasakan musuh-musuhnya di waktu peperangan. Agaknya kurang biasa bahwa ditemukan minuman yang memabukkan yang berasal dari sari tumbuhan yang merambat dan dikenal sebagai somma. Yang secara moral lebih tinggi dari atau para dewa lainnya adalah dewa yang memaksa dengan menakutkan , yakni Baruna sebagai wakil dari langit tinggi. “Dewa ini”. Tulis Max Muller, “adalah satu dari ciptaan yang paling menarik pemikiran Hindu, karena walaupun kita dapat menangkap latar belakang fisik dari munculnya dia, tetapi ia merupakan gambaran adanya dewa yang lebih di atas dari semuanya. Ia adalah satu-satunya dewa yang mengawasi seluruh dunia yang menghukum pembuat kejahatan dan mengampuni yang bermohon ampunan kepadanya”.

Ada satu aspek dari ide ketuhanan yang cukup menarik, yakni kedekatan hubungan dengan apa yang digambarkan sebagai rta. Rta berarti “cosmic order”, pemelihara dari segala tuhan-tuhan yang ada dan akhirnya dikenal sebagai “kebenaran”.

Bentuk penyembahan yang utama dalam Kitab Weda adalah Yajma, yakni upacara pengorbanan kepada dewa-dewa. Para hadirin melingkari seputar api pengorbanan dan sesaji dikumpulkan didalamnya. Sesaji itu terdiri dari men-tega, susu, minuman yang memabukkan, dan barang-barang lain semacam itu. Binatang utama yang dikorbankan adalah kambing, domba, sapi, dan seringkali juga kuda. Kurban itu terutama dimaksudkan sebagai cara menyenangkan hati para dewa untuk memperoleh keberuntungan dari mereka.

Dalam puji-pujian yang belakangan disebut dalam Rig Weda kita melihat suatu perkembangan ke arah monoteisme. Hal itu tumbuh dari tuhan Prajapati Sang Pencipta. “Tetapi,” tulis Dr.  Radkhakrishna, “monoteisme ini belum sedemikian tajam dan langsung seperti halnya di dunia modern”.

Di samping beberapa puji-pujian yang mengakui Prajapati sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tuhan dari segala ciptaan, tetapi pada kenyataannya ada dewa-dewi lain tidaklah disangkal. Sebagaimana dikatakan Max Muller, “Dengan konsepsi yang menyatakan Prajapati sebagai Tuhan dari semua yang diciptakan dan penguasa dari dewa-dewa, pencarian terhadap monoteisme sudah terpuaskan walaupun tidak diingkari adanya dewa-dewa”.

Walaupun dalam ayat-ayat Rig Veda kita tidak dapati benih agama monoteisme yang sejati tetapi terselubung konsep monoteisme. Dialah yang SATU dengan bermacam macam nama seperti Agni, Yama, Matarisvan (Rig Veda I, 164:46).

Tidak adanya penyebutan dalam kitab Weda merupakan ciri khas dalam praktik dan doktrin mereka. Tidak ada berhala, tidak ada upacara mandi di sungai suci, tidak ada pertapaan yang tinggal di hutan, tidak ada kerahiban atau pun tidak ada latihan-latihan yoga. Juga tidak ada kewenangan dalam ajaran Hindu tentang Avtar (penjelmaan kembali) dan metapsikososis (perpindahan jiwa). Masyarakat Indo Arya dibagi menjadi tiga kelas, yakni ksatria, pertukangan, dan ulama. Tetapi sebagaimana dikatakan Max Muller tidak ada sistem kasta. Kaum wanita memperoleh hak kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat agama Hindu masa lalu.

Bila kita selesai menelaah Rig Weda dan masuk ke Atharwa Weda, maka kita melihat kemerosotan yang besar dalam agama yang kini menjadi nama lain dari takhayul dan praktik guna-guna. Dr. Radhakrishnan menulis: “Agama menurut Atharwa Weda adalah agama untuk orang-orang primitif, di mana isi dunia ini penuh dengan arwah orang mati yang tanpa bentuk. Ketika dia menyadari ketidakmampuan terhadap kekuatan alam, dan kodratnya yang dengan pasti menuju ke kematian, maka mereka membuat kematian dan penyakit, kegagalan dan gempa bumi sebagai permainan dari fikirannya. Dunia ini menjadi penuh sesak dengan roh-roh dan dewa-dewa yang dapat ditelusuri pada roh-roh yang tidak puas. Bila seseorang jatuh sakit, dukun yang dikirim bukan dokter, dan dia melakukan permainan-permainan untuk mengusir roh dari pasien itu. Daya kekuatan yang menggentarkan hanya dapat ditangkal dengan pengorbanan darah manusia atau binatang. Ketakutan akan kematian memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada takhayul”.

Agama Brahma

Dengan berlalunya waktu, kaum Indo Arya maju melewati Punjab dan memasuki Lembah Gangga dan Jamuna. Mereka berhasil menindas penduduk asli dan diturunkan derajatnya menjadi budak (Sudra). Selama periode ini juga berlangsung pertempuran di dalam masyarakat Indo Arya sendiri, di antara para perwira (kesatria) dan ulama (Brahmana). Tadinya para kesatria di atas tetapi kini kaum Brahmana meningkat sebagai golongan paling tinggi dan paling berkuasa. Mereka mendapat kesenangan dengan berlalunya waktu, dan hampir-hampir mendekati tingkat ketuhanan serta diberikan kepada mereka kehormatan sebagai kasta yang paling tinggi. Sistem kasta yang tidak adil, tepat bersamaan dengan adanya agama baru di kalangan mereka dan ini ditunjukkan sebagaimana adanya agama Brahmana.

Kitab-kitab yang disucikan oleh Brahmana disusun oleh pendeta agama Brahmana sekitar abad kedelapan sebelum masehi untuk menjelaskan asal usul mukjizat dan daya kekuatan pengorbanan. Kitab tersebut juga memberi rincian secara monoton dan tidak masuk akal bagaimana upacara suci itu dilangsungkan. Kitab itu juga dipenuhi dengan dongeng-dongeng yang aneh-aneh, baik dari manusia maupun dewa-dewa dalam menggambarkan upacara pengorbanan.

Pengorbanan, seperti dikutip Professor Hopkins, “menjadi seperti mesin giling yang bekerja untuk meramalkan pahala di masadatang dan juga berkah saat ini”. Hal itu akhirnya dianggap suatu upacara magis dan pengaruhnya tergantung kepada penyajian yang tepat. “Yang lebih penting dicatat dari pekerjaan yang ruwet ini”, tulis Professor Hiriyana, “adalah perubahan yang terjadi pada jiwa pemberian korban kepada para dewa pada kurun waktu ter-tentu. Upacara itu lebih cenderung untuk memaksa atau mendesak dewa-dewa agama agar memberikan apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan korban. Perubahan yang terjadi pada jiwa pengorbanan ini dicatat oleh banyak kalangan cendekiawan masa kini sebagai tahap masuknya bagian-bagian magis dalam Agama Weda dan diambil sebagai tandingan perpindahan kekuatan dari dewa-dewa kepada para pendeta”.

Dalam agama Brahmana ini, pertama kali kita dapati peningkatan kitab Weda sebagai kitab suci. Kitab Weda sendiri tidak pernah mengeluarkan pernyataan demikian.

Agama Upanishad

Tingkat selanjutnya dalam perkembangan fikiran keagamaan di India membawa kita kepada revolusi pertama terhadap kaum Brahmana. Buah fikiran dari para Rishi atau kisah-kisah kepahlawanan dari orang-orang yang mendapat ilham Ilahi telah mengakibatkan perkembangan yang menakjubkan dan ini dikandung dalam Kitab Upanishad. Professor Hiriyanna menulis: “Berbicara lebih luas lagi, ajaran Upanishad menandakan suatu reaksi terhadap kaum Brahmana yang sebagaimana ditunjukkan telah menanamkan suatu sistem upacara agama yang pelik. Lebih dari satu tempat, kitab Upanishad mengutuk nilai-nilai upacara pengorbanan”.

Kisah-kisah kepahlawanan yang terdapat dalam Upanishad mengutuk para pendeta Brahmana dan upacara-upacara mereka yang mengandung istilah tidak menentu. “Terbatas dan sementaralah hasil dari upacara-upacara agama orang-orang yang sesat dan menganggap itu sebagai tujuan tertinggi, mereka hanya berada dalam ritual lahir dan mati saja. Kehidupan mereka dalam jurang kebodohan namun merasa bangga dan terus berputar-putar, ibarat orang buta menuntun orang buta lagi. Hidup dalam jurang kebodohan itu dikiranya mendapat berkah. Mereka terikat kepada upacara korban dan tidak mengenal Tuhan” (Mundaka Upanishad, I.2 : 7 – 8).

Dogma yang penting dalam kepercayaan Brahmana adalah keyakinan ten-tang keabadian dan asal-usul ketuhanan dari Kitab Weda. Kisah kepahlawanan Angiras tidak diragukan lagi telah menolak dogma ini: “Mereka yang mengenal Brahmana (Tuhan),” jawab Angiras, “mengatakan bahwa ada dua macam ilmu yang satu lebih tinggi dan yang satu lagi lebih rendah, yakni pengetahuan tentang kitab Weda – Rig, Sama. Yajur dan Atharwa – dan juga tentang phonetik, upacara, tata bahasa, etmologi, ukuran, dan astronomi. Ilmu yang lebih tinggi adalah pengetahuan mengenal yang tidak pernah berubah” (Mudaka Upanishad, I. 1 : 3,4)

Kandungan utama Upanishad adalah Keesaan Ilahi. Upanishad menyebut-kan Tuhan Satu-Satunya Kebenaran adalah Brahman. Di sana ditulis: “Dia yang abadi di antara semua yang fana, yang menjadi kesadaran suci umat manusia, SATU-SATU zat yang menjawab doa dari semua orang … Dia tidak diciptakan tetapi Maha Pencipta: Mengetahui semuanya. Dia lah menjadi sumber kesadaran suci, pencipta waktu, Maha Kuasa atas segala hal. Dia tuhan dari jiwa dan alam ini … sumber cahaya dan abadi dalam kemuliannya. Hadir di mana-mana dan mencintai makhlukNya Dia penguasa terakhir alam dunia ini dan tidak satu pun dapat terjadi tanpa izin Nya… Saya pergi ke haribaan Tuhan yang SATU dalam keabadian, memancarkan cahaya yang indah dan sempurna, di dalam Nya kita akan mendapat kedamaian” (Svetasvatara Upanishad VI : 13: 19) “Dia tidak terbentuk dari kesadaran dan di luar jangkauan seluruh fikiran, tidak terbatas dan Dia adalah Tuhan. Dia membalas semua perbuatan baik: Abadi, Esa, tidak berawal, menengah, dan berakhir.

Ia transenden dan imanen, tidak hanya di dalam alam semesta dan jiwa manusia, tetapi juga di luar alam semesta ini. “Zat yang memancar dan tidak berbentuk. Ia di dalam semua dan tanpa semua. Ia tidak dilahir, suci, lebih agung dari yang teragung, tanpa nafas, tanpa jiwa” (Mundaka Upanishad, II, I:2)

Terminologi lainnya yang sering digunakan Upanishads adalah Atman. Yakni “pribadi individual”, sebagai pembeda dari Brahman yang berarti “pribadi alam semesta”. Atman walau demikian bukan berarti badan, dan bukan juga fikiran, hidup, dan jiwa. Ia adalah ruh yang intinya diri sendiri. Upanishads di berbagai tempat membuat pernyataan yang mengejutkan bahwa “Atman adalah Brahman” (atau dengan perkataan lain di Chandogya Upanishad, “That art Thou”), tetapi itu tidak terlalu mengejutkan dibanding dengan pernyataan Jesus, “Aku dan Bapak adalah satu”, atau dengan ahli sufi Masur al-Hallaj, “Ana’l Haqq” (Aku adalah Kebenaran) Pernyataan ini berarti bahwa Tuhan memanifestasikan tiap pribadi jiwa, atau seperti yang dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa Tuhan meniupkan RuhNya ke dalam setiap manusia. Secara tidak langsung dimungkinkan bahwa bersatunya jiwa dengan Tuhan, dan dalam kenyataannya ekspresi tersebut dinyatakan ketiadaan pribadi (oneness), Tuhan sendiri yang akan berbicara melalui mulutnya merupakan pernyataan sufi, sebagai ungkapan kegembiraan bersatunya kesadaran Tuhan dan melupakan dirinya, sehingga terucapkan “Aku adalah Kebenaran”.

Upanishads mengatakan kepada kita bahwa tujuan dari kesadaran spiritual dari manusia adalah mencari Tuhan, untuk mengetahuiNya dengan bersatu seseorang denganNya. “Brahman adalah akhir dari suatu perjalanan. Brahman adalah tujuan tertinggi. Brahman ini, Pribadi, tersembunyi secara mendalam dalam semua ciptaan, dan tidak juga diwahyukan ke semua, tetapi berada di hati yang suci, terkonsentrasi dalam jiwa … kepadanyalah Dia diwahyukan”. (Katha Upanishad 3: 11-12)

Dan apa yang dikatakan Katha Upanishad tentang cara-cara untuk membimbing manusia ke arah tujuan bersatu dengan Tuhan: “Dengan belajar seseorang tidak dapat mengenal Dia bilamana dia tidak berhenti dari berbuat jahat, bilamana tidak mengendalikan pancainderanya, bila tidak menenangkan fikirannya, dan tidak mempraktikkan meditasi” (Katha Upanishad 2 : 24)

Jalan itu dapat dibagi atas empat tingkatan:

(1) tingkatan usaha memperbaiki akhlak dan kesucian hati

(2) tingkat murid dan belajar dari guru yang mendapat petunjuk (sravana)

(3) tingkat refleksi diri (manana)

(4) tingkat meditasi (dhyana)

Isha Upanishad (ayat 12-14) menjadikan hal terakhir ini jelas bahwa yang sejati itu bukan jalan penyiksaan atau pun mengasingkan diri dan menarik diri dari kehidupan dunia. Ia adalah Jalan Tengah.

Agama Sri Krishna

Sekarang kita sampai kepada gerakan agama besar yang kedua yang menolak Weda dan berkembang bebas serta menentang Brahmanisme. Agama itu dinamakan agama Bhagvata dan nabinya Krishna. Prof. Garbae menulusuri lima tahapan yang berbeda dalam sejarah perkembangan agama Bhagvata.

Dalam taraf pertama, agama itu berkembang di luar Brahmanisme. Agama itu bersifat monoteisme yang menekankan kepada ketuluasan dan melaksanakan tugas kewajiban tanpa pamrih Krishnalahiriah. Pada tahap ini, Krishna dianggap sebagai nabi yang mendapat ilham dari Tuhan untuk mengajarkan agama yang benar. Pada tahap kedua, Sri Krishna dipertuhankan setelah kematiannya oleh para pengikut yang terlampau fanatik dan bodoh. Dalam tahap ketiga yang terjadi 500 tahun SM terjadilah Brahmanisme agama Bhagawat dan Sri Krishna dianggap sebagai Dewa Wisnu. Prof. Hiriyanna menulis: “Akhirnya keimanan monoteisme pun berubah dengan berlalunya waktu dengan dikombinasikan ajaran Weda tentang Wishnu Narayana; dan kombinasi ini terutama berperan dalam menciptakan Tuhan dari ajaran Weda dan bahkan lebih dari Siwa. Akhirnya Sri Krishna nabi dari agama Bhagawat dipertuhankan dan dikenal sebagai Wishnu Narayana sebagai penjelmaan dari Dia”.

Tingkat keempat dalam perubahan bentuk agama Bhagvata adalah ajaran Weda, yang paham utamanya adalah pengabdian yang intensif kepada personifikasi dewa Wishnu, tidak hanya sebagai pencipta dan pengrusak alam semesta. Jadi, ajaran Weda selain itu menciptakan doktrin trinitas yang merupakan kesatuan dari Brahma, Wishnu, dan Shiwa sebagai penghargaan terhadap tuhan Wishnu. Kedua penjelmaan dalam diri manusia dari Wishnu dikatakan sebagai Krishna dan Rama. Akhir dari semuanya, terjadilah ajaran Weda yang dibangun oleh ahli agama besar Ramanuja, sebagai tokoh modifikasi Monoisme. (Visistadvaita).

Bhagawad Gita , kitab suci agama Bhagawad, dalam bentuk yang sekarang ini termasuk dalam tahap keempat. Seperti itulah Sri Krishna muncul didalamnya, yakni sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai inkarnasi Wishnu. Bhagawad Gita menjalani perubahan dan interpolasi yang sangat besar sebelum sampai bentuk yang sekarang ini dan menyatu dalam epos Hindu, yakni Mahabrata.

Seperti halnya para Rishi dalam Upanishad, Sri Krishna menolak sistem pengorbanan kaum Brahmana dan percaya kepada keaslian wahyu dalam kitab Weda. Dia berkata bahwa Weda sedikit gunanya dan ibarat tempat air yang kecil dalam bidang yang penuh air.

Agama Sri Krishna jelas pada awalnya monoteisme: “Mereka yang fikirannya senantiasa tenang berarti memenangkan kehidu-pan di dunia ini. Tuhan adalah suci dan senantiasa Esa dan senantiasa bersatu dengan mereka” (Bhagawad Gita 5 : 19)”

Agama Baghawad Gita adalah penyerahan diri kepada Tuhan: Bila seseorang menyerahkan segala keinginan yang muncul di hatinya dengan rahmat Tuhan, maka ia memperoleh kegembiraan beserta Tuhan dan sesungguhnya jiwa telah memperoleh kedamaian” (Bhagawad Gita 3 : 9)

Sri Krishna, nabi agama Bhagawad, mengajarkan pengikutnya untuk menjalankan tingkah laku dengan penuh kesucian atau sebagai kebaktian kepada Tuhan. Bhagawad Gita menyebutkan sebagai Bhakti Yoga: “Dunia selalu mengikat kita, kecuali penyerahan diri. Maka jadikanlah tindak tandukmu dengan kesucian dan bebas dari ikatan hawa nafsu” (Bhagawad Gita 3 : 9)

“Serahkanlah segala karyamu ke hadirat Tuhan dan buanglah segala ikatan, pamrih pribadi, serta kerjakanlah amalanmu. Maka tidak ada dosa yang melekat dalam dirimu ibarat air yang tidak melekat ke daun teratai” (Bhagawad Gita, 5: 10)

Dia juga menyerukan para pengikutnya untuk menjalankan kewajiban tanpa memandang konsekuensinya. Kepentingan mereka haruslah untuk mengerjakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran, dan bukan dalam pahala ataupun buah hasilnya: “Kendalikan dirimu pada baktimu, dan jangan sekali-kali pada pahala. Berbakti bukan untuk pahala, dan janganlah pernah berhenti dalam kebaktian-mu” (Bhagawad Gita. 2:47) Bhagawad Gita menggambarkan timbulnya beramal tanpa pamrih sebagai Karma Yoga. Namun rupanya tidak ada perbedaan yang nyata antara Bhakti Yoga dan Karma Yoga.

Bhagawad Gita berarti Jalan Tengah (6:16). Dia menarik manusia agar mempunyai itikad baik terhadap sesamanya, untuk menyayangi segenap ummat manusia, untuk mengendalikan keinginan dan hawa nafsunya, mengikis habis egoisme dalam berbakti agar mendapat ketentraman, lemah lembut, sederhana, dan pemaaf (16: 1-4). Tujuan akhir hidup manusia dikatakannya adalah “untuk menemukan kedamaian dalam damai dengan Tuhannya” (2:71-72).

Bangkitnya Hinduisme

India adalah tanah air dari berbagai suku bangsa, kebudayaan, dan agama. Kami telah menggambarkan beberapa gerakan agama ini pada halaman-halaman terdahulu. Sekarang kita mencapai tahap di mana kita saksikan suatu usaha yang mengherankan dengan memasukkan segenap kepercayaan agama, filsafat, dan praktiknya ke dalam satu sistem yang kita namakan Hinduisme. Kita melihat manifestasi semangat Hindu yang aneh – semangat untuk mensintesis, kompromi. Hinduisme menyerap ke dalam dirinya sendiri ide-ide keagamaan, gambaran dan praktik kehidupan dari bangsa Drawida dengan Wedanya, Brahmana dengan Upanishadnya, dan Bhagawat Gita dengan Sri Krishna, dan bahkan praktik animisme dan primitif serta kegemaran dari bangsa asli India. Hinduisme mengorganisasi keberanekaragaman yang jelas-jelas tidak serasi dalam satu sistem, namun mereka tidak menghapuskan variasi ataupun mengambil keputusan yang ketat terhadap satu golongan, satu konsepsi keagamaan, ataupun pada cara penyembahan tertentu.

Bangsa Drawida telah menyumbangkan kepada Hinduisme banyak dewa-dewa (termasuk Siwa dan dewa dewi), adat kebiasaan keagamaan yang menyembah patung, kependetaaan, serta mandi suci di sungai keramat, dan doktrin tentang reinkarnasi dan avtar. Mula-mula Siwa dikenal sebagai dewa badai dalam Weda, yakni Rudra, dan belakangan timbul sebagai satu dari tiga dewa utama.

Agama Weda telah menyumbangkan sistem pengorbanan dan dewa-dewa alam. Dari agama Brahmana masuk kepercayaan keabadian Weda, sistem kasta, dan sederetan upacara-upacara serta ritual agama yang melelah-kan. Agama Upanishad yang awalnya dibentuk untuk melawan dan mengutuk Brahmaisme pada akhirnya dibuat kompromi dengan mensublimasikan kon-sepsi Realitas Terakhir dan jalan bersatu dengan Tuhan ke dalam ajaran Hindu.

Sri Krishna yang telah mendirikan suatu agama tersendiri, akhirnya juga dimasukkan dalam Hinduisme dengan membuat suatu avtar atau inkarnasi dari tuhan agama Hindu Wishnu; kitab sucinya Bhagawad Gita dimasukkan setelah direvisi seperlunya dalam epos Hindu Mahabrata, dan monoteisme serta ajaran peningkatan moral dijadikan bagian dari Hinduisme.

Di samping bangsa Drawida dan Arya terdapat pula sejumlah besar penduduk asli. Mereka memiliki satu tingkat kebudayaan yang sangat rendah. Mereka menyembah setan dan hantu serta juga menyembah sungai, gunung, pepohonan, serta binatang. Tata cara serta cara penyembahan mereka itupun masuk dalam Hinduisme. Di antara dewa-dewa yang muncul dari budaya kaum pribumi asli adalah dewa yang dahsyat, Kali, (yang digambarkan dalam mitologi Hindu sebagai istri Siwa) dan Ganesha sebagai dewa setengah gajah setengah manusia sebagai putera Siwa dengan dewi Parawati. Seringkali dikatakan bahwa Hinduisme adalah gudang segala macam percobaan keagamaan dan bukanlah satu agama yang tunggal. Mengutip kata-kata Jawaharlal Nehru: “Hinduisme sebagai suatu keimanan adalah samar-samar, tidak berbentuk, banyak sekali sisinya, semua barang untuk semua orang. Sangat sukar untuk mendefinisikan atau menyatakan secara pasti apakah itu agama atau bukan dalam rasa bahasa yang biasa. Dalam bentuk yang sekarang ini, dan bahkan di waktu yang lampau Hinduisme merangkum banyak kepercayaan dan adat istiadat dari tingkat tertinggi sampai ke tingkat terendah seringkali berlawanan atau bertentangan satu dengan lainnya”.

Meskipun agama Hindu memberi kebebasan dalam meyakini konsepsi ketuhanan (politeisme, pantaisme,atau monoteisme) dan mempergunakan objek dan cara penyembahan apapun (dengan atau tanpa patung), namun agama Hindu mengharuskan keseragaman yang ketat dalam menjalankan aturan-aturan hidup tertentu sebagaimana tercermin dalam hubungan masyarakat Hindu dan sistem kasta. Tulis Mrs. Annie Besant: “Kebebasan pandangan, namum kolot dalam kehidupan ini telah menjadi ciri khas Hinduisme walaupun telah melalui evolusi yang sangat panjang. … Seorang Hindu boleh berfikir semaunya tentang Tuhan – sebagai kesatuan atau terpisah dari alam semesta, bahkan boleh menghapuskan Nya sama sekali – namun begitu tetap kolot, yakni dia tidak boleh kawin dengan kasta lain ataupun memakan makanan yang ternoda”.

Sepanjang ini, kami telah menelaah evolusi agama Hindu serta asal-usul perkembangan bermacam kepercayaan yang akhirnya terserap dalam Hinduisme. Sekarang kita akan mempelajari segisegi yang berbeda dari aspek agama ini – teologi, filsafat, institusi sosial, dan nilai moralnya.

Sumber: GREAT RELIGIONS WORLD by Ulfat Aziz-us -Samad

THE GOLD DINĀR AND SILVER DIRHAM: THE FUTURE OF MONEY

Abū Bakr ibn Abi Maryam reported that he heard the
Messenger of Allah say: “A time is certainly coming over
mankind in which there will be nothing (left) that will be of
use (or benefit) save a Dinār (i.e., a gold coin) and a
Dirham (i.e., a silver coin).” [This prophecy clearly
anticipates the eventual collapse of the fraudulent monetary
system now functioning around the world.]
(Musnad, Ahmad)

It is both strange and embarrassing that even at this late hour when enemies are about to weld into place the final iron gate of a financial Guantanamo, so many Muslims remain ignorant about the devilish nature of European-created money in the modern world. One has even criticised this writer for having “funny” views concerning money.

There seems to be little understanding of the role that a European-created money-system has been playing in delivering to enemies of Islam the capacity to engage in massive legalised theft of the wealth of mankind. Nor is there realization tha those enemies have designed a monetary system that would eventually deliver to them financial dictatorship over the whole world. They have already succeeded in enslaving millions of Muslims (as well as others amongst mankind) with slave wages and even destitution, while pursuing a sinister global agenda on behalf of the Euro-Jewish State of Israel. It is truly pathetic to listen to those who blame Pakistanis and Indonesians for miserable poverty in Pakistan and Indonesia.

The news media, even in countries that declare ‘Islam’ to be the State religion, is notorious for blanking out all news reports concerning this important subject. An example of such was the important ‘International Conference on the Gold Dinār Economy’ that was held at Kuala Lumpur’s Putra World Trade Center on July 24th and 25th 2007. An excellent keynote address, delivered by a former Malaysian Prime Minister, Tun Dr. Mahathir Mohamad, set the stage for two days of intensive deliberations on the subject of ‘money’. This booklet is an expanded version of our paper entitled “Explaining the Disappearance of Money with Intrinsic Value” which we presented at the conference shortly after the feature address. Readers may wish to assess the coverage of that conference in the Malaysian English-language newspapers.

What is far worse than the news blackout is that classically trained scholars of Islam (i.e., ‘Ulamā) seem to share with ordinary Muslims this strange and highly embarrassing state of ignorance, or silence, concerning the fraudulent nature of modern money. Even when they realise that there is something dangerously wrong about modern money, so many in this strange modern age lack the courage to denounce the monetary system of non-redeemable paper money as fraudulent and, hence, Harām.

Governments who rule over Muslims present the most pathetic scene of all. Neither do they understand the dangerous reality of money today, nor do they want to know the subject. The reason for this is located in the subservient role to which they must adhere as governments in their relations with the Judeo-Christian alliance that now rules the world.

The solitary exception to this dismal state of affairs has been the former Prime Minister of Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad. He not only understood the exploitative nature of the monetary system created by modern western civilization, but also, and quite correctly so, did what scarcely any of the Muftis of Islam have so far done, or dare to do. He called for the return to the Gold Dinār as money, in place of the money system built around the utterly fraudulent US dollar, so that Muslims could extricate themselves from financial and economic oppression and exploitation.

We offer this essay on the ‘future of money’ for the benefit of those who believe in the Qur’ān as the revealed word of the One God, and in Muhammad (peace and blessings of Allah Most High be upon him) as the last of His Prophets. We are conscious of the fact that we must not only explain this subject adequately but that we must also pray that Allah Most Kind may intervene and remove the veils from so many eyes. Only then would they recognise the looming final stage of a fraudulent monetary system designed to impose complete financial slavery upon mankind. The system is designed to target in particular those who resist the mysterious Judeo-Christian alliance that now rules the world.

The final stage of evolution in their monetary system would witness the universal embrace of electronic money, the brightest jewel of their evil monetary crown, which would totally replace today’s fraudulent paper currencies. Indeed this final stage has already commenced, and all that the international monetary bandits now need is a world crisis (such as a nuclear attack on Iran which has not as yet occurred but which is expected at any time) that would result in a total collapse of the US dollar and a consequent mass stampede away from paper currencies.

Already the impending collapse of the US dollar is reflected in the rising price of gold – now close to the record of US$850 an ounce set in January 1980. The world can expect to see the price of gold escalate to US$3000 or more per ounce. The same thing would happen to the price of oil. Perhaps the psychological shock of the collapse of the US dollar would produce the stampede through which electronic money would effortlessly replace paper money as the new cashless money system of the world.

We attempt in this essay to introduce the reader to the subject of money as located in both the blessed Qur’ān and the Sunnah of the blessed Prophet (sallalahu ‘alaihi wa sallam). We demonstrate that such money (which we call Sunnah money always possessed intrinsic value. By that, we mean that the value of the money, whatever that value might be, and regardless of changes in value that might naturally occur, was stored within the money, and was thus immune to arbitrary external manipulation and devaluation.

We further demonstrate that the monetary system created by the ruling European Judeo-Christian alliance was specifically designed to remove ‘money with intrinsic value’ from the money-system of the world, and to replace it with money that had no intrinsic value. Such non-redeemable paper currencies could then be devalued. When they were devalued not only would it result in an unjust legalised theft of the wealth of those who used the devalued currency but additionally, it would become more and more expensive for such countries to repay loans which were taken on interest. Eventually these countries would be trapped with debts they could never repay, and would thus be at the mercy of those whose suspiciously large loans to them were meant to deliver precisely such control over them. (See John Perkins, ‘Confessions of an Economic Hit-Man’).

As money was devalued, the cost of property, labour, goods and services in the territories of the devalued currencies would become cheaper and cheaper for those who created the monetary system. Eventually one part of the world could live very comfortably while the rest of the world, with their constantly devalued money, sweated and laboured in a new slavery to keep the bandits permanently rich and with permanent first class tickets on the ship of life. As poverty increased in the targeted countries, corruption naturally also increased. Those who had the intellectual acumen of cattle would then wonder loudly: why do Muslim countries suffer from so much corruption while the West (which had looted their wealth and was living off their sweat) was so free from corruption.

Then when the IMF forced privatization upon those whose money had lost value, the bandits could then buy out oil and gas fields, power-supply companies, telephone companies, etc., in such countries for a song and six-pence, i.e., for a price far less than their true value. It remains an enigma that Venezuela’s Hugo Chavez could understand the exploitative role of the IMF and could terminate Venezuela’s membership in that organization, while the scholars of Islam remain amazingly silent on the subject.

This essay goes on to explain that the enemies are not content with simply living off the sweat of others through exploiting to their advantage a monetary system that is unjust and oppressive. Rather they have a grand design to so financially enslave the masses as to permit them to impose their dictatorship over the whole world. Their dictatorship would, in turn, pave the way for the Euro-Jewish State of Israel to become the ruling state in the world and, eventually, for a ruler of Israel to startle the world with the utterly fraudulent claim that he is the true Messiah. In fact, he would be Dajjāl the false Messiah or Anti-Christ! We are now so close to that event that this writer confidently predicts that children now at school would live to see it

Unless one has an understanding of the grand design behind the creation of the contemporary monetary system of non-redeemable paper money, one cannot respond properly to the challenge posed by that monetary system. Yet this writer has tried in vain to convince his distinguished and learned peers of the need to understand that grand design before embarking on an effort to restore the Gold Dinār as money.

Source: THE GOLD DINĀR AND SILVER DIRHAM: ISLAM AND THE FUTURE OF MONEY by Imrān N. Hosein